Ocean Story

Ketika Jemu Menyapa – Mengalahkan Rindu – Apa kabar keutuhan ?

Ketika Jemu Menyapa

Lirih berbisik,
bahagia kau dengan baik-baik saja ?
Tanpa denyutan, semua berjalan dengan ritme yang sama. benarkah ini baik ?
Tenang tanpa desiran dan waktu berlomba melahirkan kesibukan-kesibukan yang konon katanya memperjuangkan kenyamanan dikemudian hari, berdalih demi esok dan tanpa sadar hari ini terkeping-keping.

Bising, riuh berlomba yang katanya untuk lebih baik, demi bahagia.

Hingga dalam satu titik hening menyapa dalam ramainya kesibukan menuntut.

Jemu, bosan dan terkuak sebuah pertanyaan ” apa kabar diri, sudah bahagia ?”

Ketika Jemu Menyapa

Raga berdampingan jiwa berjarak
Bersama tak bersatu
Bersatu tak terpaut

Ruang binar yang merona jiwa pernah ada
awal saat percikan desiran itu menyapa
setiap detiknya mengharapkan temu

Kemanakah itu ?

Tertegun diri kemanakah denyutan yang pernah diperjuangkan
Rasa yang membawa jalan bersama itu telah tergerus oleh waktu
Entah siapa yang memulai

Seakan baik-baik saja tapi diri bertanya apakah benar ini baik ?

Rindu ?

Kalah
Dia seakan tak mampu menghadirkan diri karena bosan itu telah memenangkannya.

Ada namun tiada
Tersentuh tak bergairah
Bagaimana bisa rindu bisa hadir ?

Bertemu tak terpaut
Berdialog tak intim
Senyum tapi getir

Jemu, bosan dan lirih lagu Jenuh Rio Febrian itupun melewati bayangan ketika jemu menyapa

Ternyata hati, tak bisa berdusta
Meski ku coba, tetap tak bisa
Dulu cintaku, banyak padamu
Entah mengapa, kini berkurang

Maaf, ku jenuh padamu
Lama sudah kupendam
Tertahan dibibirku
Mau ku tak menyakiti
Meski begitu indah
Ku masih tetap saja
Jenuh…

Resah – Takut – Ketika Jemu Menyapa

Mungkin diri akan berjuang untuk rasa jenuh, jemu , bosan itu dilalui tapi bagaimana dengan dia ?
Resah itu menghampiri dan anginpun bersorai girang menertawakan kesibukan yang telah diperjuangkan, menertawakan esok yang nyatanya hari ini tak utuh.

Getirpun tersenyum dan rasa retak seakan tiba-tiba menghampiri.

Baik-baik saja belum tentu baik terlebih tak ada dialog yang mendalam

Menyapa pagi dengan senyum datar, pergi berjuang katanya untuk esok dan siangpun hanya berbasa basi makan apa, itupun jika ingat, ketika malam seakan tak ada ruang, berdalih letih dan hal yang lainnya.

Begitu saja terus menerus tanpa sadar keinginan untuk direngkuh hilang.

Akhirnya daun bertanya ” Inikah disebut hubungan ? “

Apa kabar keutuhan ?

Janji yang mendasari bersama yang disebut pasangan telah dilakukan awal pun berbisik,
” Bila kau hanya berujung ini untuk apa aku ada, kau tak perlu menghadirkan aku cukup saja kau bersama, saat bosan lupakan satu sama lainnya “

Ketika jemu menyapa pertanggungjawabkan rasa yang telah dipilih , daun itu berceloteh.

Waktu itu saat awal memulai apa yang menjadi landasan untuk bersama, apa yang membuat ingin terikat, bukankah keutuhan sebagai insan itu yang diperjuangkan.

Konon katanya berdua lebih baik dari pada sendiri

Bukankah itu bagian penting tentang keutuhan. Kini saat waktu menguji dengan segala tawarannya lupakah ?

Bertanggung jawablah pada rasa awal itu – Sejenak Dialog

Mari lupakan sejenak ada yang tunas yang mungkin telah diberikan, lupakan juga insan-insan menjadi saksi janji saat hati terpaut, cukup lihat diri masing-masing diri, bisikkan dalam relung, jiwa, akal

Apakah aku masih membutuhkannya, apa dia juga membutuhkanku, jawaban apa yang akan diberikan jika nanti perjalanan hidup ini pada pencipta, mampukah bertanggung jawab atas rasa itu ?

Pecahkan Saja – Ketika Jemu Menyapa

Marahlah jika itu diperlukan, mulailah berdialog

Entah itu dimulai dengan manis ataupun durjana, tanpa itu waktu tak akan perduli akan kebosanan yang dilihat, angin akan bersuka saja melihat pasangan yang satu sama lain tak perduli dengan keutuhan.

Pecahkan saja tembok ego itu, retakkan saja hal-hal terselebung satu sama lainnya. Jika memang harus berteriaklah.

Bertengkaran yang melahirkan gairah akan jauh lebih baik dibandingkan diam dalam kebosanan

Temukan keinginan satu sama lainnya, bukankah keutuhan pasangan itu saat kelebihan yang satu melengkapi kekurangan yang lainnya, begitu sebaliknya.

Tak perlu menunggu siapa yang duluan, mulailah dari diri dan jangan pernah katakan letih sudah terus menerus memulai karena tanggung jawab itu tidak mengerti arti letih.

Terima atau Berhentilah

Aku bertahan
Kar’na ku yakin cintaku kepadamu
Sesering kau coba ‘tuk mematikan hatiku
Takkan terjadi, yang aku tahu kau hanya untukku

Lirik lagu aku bertahan Rio Febrian ini mungkin bisa jadi acuan bagaimanapun dia, terima dengan segala keberadaannya.

atau

Berhentilah bersamanya.
Jika kau mampu mempertanggung jawabkan semuanya.

Waktu tidak akan pernah kembali, putuskan yang tepat untuk hari ini dan esok.

Berencana itu hal yang penting tapi jauh lebih berharga hiduplah hari ini

Utuhlah

Segala hal boleh retak, apapun itu tapi hati tetaplah utuh karena dengan itu kau akan menemukan jalannya dan melangkah dengan kuat.

Ketika Jemu Menyapa
tanyakan pada diri, apa bahagia itu terlahir dari diam ?

Bergeraklah dimulai dari berdialog , entah itu dengan manis ataupun durjana.

9 Comments

  1. Evi 7 Juni 2022
    • Nik 10 Juni 2022
  2. tukang jalan jajan 8 Juni 2022
    • Nik 10 Juni 2022
  3. fanny_dcatqueen 9 Juni 2022
    • Nik 10 Juni 2022
  4. lendyagassi 10 Juni 2022
  5. Dawiah 12 Juni 2022

Tinggalkan Jejakmu... Karena itu Sangat Berarti!

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: